Jumat, 09 Oktober 2009

pemikiran politik Confucius

Pemikiran Politik Confucius (Kong Hu Chu)

(sosok Pemimpin Yang baik menurut pemikiran Confucius)

  1. Pendahuluan

Filsafat merupakan awal dari segala ilmu begitu pula dengan politik karena filsafat merupakan ilmu yang mempelajari mengenai kehidupan manusia. Ilmu politik terutama erat sekali hubungannya dengan filsafat politik, yaitu bagian dari filsafat yang menyangkut kehidupan politik terutama mengenai sifat hakiki, asal-mula dan nilai dari Negara.[1] Banyak para pemikir filsuf menjadi insfirasi bahkan merupakan bagian dari pemikiran politik salah satunya adalah Confucius.

Confucius atau Kong Hu Chu merupakan filsuf dari negeri Cina yang memberikan sumbangan yang besar bagi peradaban dunia dengan pemikiran-pemikirannya mengenai kehidupan manusia. Confucius lahir pada tahun 551 SM di Tsou yaitu sebuah kota kecil di negeri Lu yang sekarang dikenal sebagai provinsi Shantung.[2] Dalam usia 19 tahun, Konfusius menikah dengan seorang gadis dari keluarga Kian Kwan dari negeri Song. Confucius menguasai enam seni yaitu tata-krama, musik, mamanah, menunggang kuda, menulis huruf indah (kaligrafi) dan ilmu menghitung (arifmatika)., juga menguasai berbagai bentuk tradisi klasik sejarah dan puisi kebangsaan.

Confucius merupakan pemikir filsuf yang memberikan banyak pencerahan di negeri Cina dengan pemikirannya mengenai kehidupan manusia, salah satu karya besarnya terangkum dalam buku The Lunyu yang merupakan kumpulan catatan percakapan antara Confucius dengan murid-muridnya, terdiri dari 20 bab dan beberapa ayat-ayat yang pada setiap babnya berbeda-beda jumlahnya.

Pemikiran Confucius menekankan prinsip moral peribadi dan politik, ketepatan hubangan sosial, keadilan dan keikhlasan. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pemikiran-pemikiran Confucius khususnya pemikirannya dalam bidang politik. Serta bagaimana sikap Confucius pada pemerintah di masanya.

  1. Pembahasan

Pemikiran politik Confucius erat kaitannya dengan kondisi kehidupannya terutama kondisi masyarakat dan pemerintahan ketika itu. Confucius hidup pada abad 5 SM yaitu pada masa dinasti Chou yang merupakan dinasti yang memantapkan piramida kekuasaan pada masa itu. Dinasti ini mengalami kemajuan yang sangat pesat namun merupakan pemerintahan yang kejam yang dipegang oleh para Bangsawan yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperdulikan rakyat. Kekuasaan pemerintahan digenggam erat oleh para bangsawan baru yang terpelajar namun tidak berprikemanusiaan, beberapa diantaranya menyalah gunakan wewenang tersebut, mencari kesenangan dari bisnis tragis dengan mengobarkan peperangan.[3] Confucius hidup dalam keluarga miskin sehingga ia tahu persis bagaimana penderiataan-penderitaan yang dialami oleh rakyat yang menjadikannya sebagai sosok yang peduli akan nasip rakyat, dan keadilan yang begitu tercermin dalam pemikiran politiknya.

Pada usia 22 tahun Confucius mendirikan sekolah dan memberiakan segenap pemikirannya pada mereka yang ingin belajar karena baginya pendidikan merupakan hal yang penting demi terciptanya kesetaraan sejati antara umat manusia. Melalui pendidikan inilah ia berusaha untuk merubah perilaku pemerintahan yang telah rusak selain dengan tujuan untuk mengembangkan serta meningkatkan taraf pemikiran serta kesusilaan, memperluas, memperkuat, serta menertibkannya yang kedua juga dimaksudkan untuk memberi bekal kepada para muridnya agar dapat menjadi pegawai pemerintah.[4] Dengan begitu ia berharap para muridnya nanti bisa merubah pemerintahan yang memenuhi kebutuhan rakyat.

Confucius berkeyakinannya bahwa seorang penguasa harus belajar disiplin diri, seharusnya mengatur rakyatnya dengan contoh sendiri, dan seharusnya memperlakukan mereka dengan cinta dan perhatian.[5] Dalam The Lunyu Bab 2 ayat 3 Confucius mengungkapkan bahwa “ Memimpinlah dengan menerapkan kebijakan, tegakkan kepatuhan dengan menerapkan hukuman, maka rakyat akan menahan diri, tetapi tidak merasa malu. Memimpinlah dengan arif, tegakkan kepatuhan dengan menerapkan tata karma, maka akan timbul rasa malu dan mambaiknya kesadaran”[6] dari perkataannya ini Confucius sangatlah mengutamakan kepentingan rakyat dengan begitu sebagai seorang pemimpin haruslah selayaknya sebagai seorang pemimpin yang melindungi segenap rakyat-rakyatnya. Dalam the Lun Yu Bab 1 ayat 5 Confucius berkata “saat memimpin Negara yang memiliki ribuan kereta kuda hormatilah jabatan dan jadilah orang yang dapat dipercaya, berhematlah dalam memanfaatkan sumberdaya dan kasihilah rakyat, dan pekerjakanlah orang pada waktu yang tepat”[7]

Dalam catatan tata-krama, Negeri makmur, gemah ripah loh jinawi, Confucius menggambarkan pemerintahan yang ideal merupakan pemerintahan yang arif dan bijaksana bagi rakyatnya. Confucius berkata bahwa “ Manakala pemerintahan sempurna berjalan dengan baik, dunia sekan rumah bagi semua orang. Orang yang arif dan layak dipilih menjadi pejabat pemerintah dan orang yang berkemampuan akan melakukan pekerjaan yang berguna dalam masyarakat; kedamnaian dan saling percaya antara semua orang merupakan semboyan kehidupan.”[8]

Sepeti dibahas sebelumnya lewat pendidikan cofusius membekali murid-muridnya dengan pemikirannya dan prinsip-prinsipnya untuk menjadi pejabat yang baik. Selain itu Confucius juga mengajarkan agar sebagai seorang pejabat tidaklah harus selalu mengikuti kehendak atasannya, jika atasannya bebuat salah maka kita wajib untuk meluruskannya. Confucius menolak tolak ukur kesetiaan feodal kepada seorang penguasa atasan, dan sebagai penggantinya ia menghendaki kesetiaan kepada prinsip, kepada jalan. Jalan menurut Han Yu cendekiawan dinasti Tang mengungkapkan jalan adalah cara betindak, suatu tindakan yang dijiwai oleh cita-cita keadilan dan oleh rasa kasih terhadap setiap manusia.

Dengan terus berpegang teguh pada jalan ini sejumlah diantara para muridnya gugur sebagai kaum pemberontak, yang mengangkat senjata melawan tirani, nasib inilah yang dialami anak keturunan Confucius generasi kedelapan, sebagian lagi tewas di tangan algojo, karena berani mematuhi perintah tegas Confucius tanpa takut mengecam penguasa yang bersalah, demi kebaikan bersama.[9]

Pemerintahan menjadi buruk lebih dikarenakan pera pemimpinnya tidak tahu mengenai pemerintahan yang baik yang hanya karena warisan memperoleh kekuasaan sehingga berbuat semena-mena. Menurut Confucius pemerintahan harus ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan serta kebahagiaan seluruh rakyat, pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang yang paling cakap di suatu negeri, kecakapannya ini tidak didapatkan melalui keturunan atau kedudukan tetapi melalui pengetahuan.

Kedudukan seorang menteri menurut Confucius memainkan peran penting, seorang menteri tidak hanya menjadi abdi bagi penguasa dan menjadi penjilat untuk menarik perhatian penguasa. Dalam prinsipnya seorang menteri haruslah berani menentangnya secara terus terang jika kebijakan yang diambil penguasa adalah buruk. Confucius pernah berkata kepada bangsawan Lu, bahwa bila kebajikan yang diambil seorang pengusaha buruk, namun tidak ada seorang pun di sekelilingnya yang menentangnya, maka kelesuan semacam ini sudah cukup untuk menghancurkan suatu Negara.[10] Karena kondisi saat itu tidak adanya pemungutan suara dalam pembuatan kebijakan, maka melalui pendidikan Confucius mendidik murid-muridnya agar suatu saat bisa menjadi para menteri yang dapat memberi tekanan pendapat umum sehingga bisa tercipta pemerintahaan yang baik.

Pada masa penguasa Chi K’ang Tsu yang merupakan keluarga yang paling berkuasa di negeri Lu. Banyak diantara para muridnya ini menjadi pegawai resmi pemerintahan ketika itu. Chi K’ang Tsu merupakan pemimpin yang lalim karena ia nembuat kebijakan pajak yang sangat tinggi untuk mempertahankan kehidupan mewahnya, melakukan perang dan penyerbuan serta selalu bertindak buruk yang bertentangan dengan prinsif Confucius, bahkan Confucius selalu mengkrtik dengan kecaman keras terhadapnya. Tetapi Chi banyak menarik para murid Confucius untuk menjadi pejabat resmi Negara. Terdapat dua alasan chi melakukan hal ini pertama meskipun para bangsawan sendiri melakukan tindakan-tindakan yang sering acak-acakan, namun demi kepentingan mereka sendiri, maka para bawahan mereka setidaknya harus terdiri dari orang-orang yang bermoral. Kedua, Confucius mengajarkan kepada para muridnya bagaimana cara berpikir di dalam berbagai keadaan yang mungkin dihadapi seorang pegawai, dan sejumlah hal mengenai azas-azas pemerintahan.

Confucius juga meyakini pada dasarnya manusia merupakan makhluk social, berdasarkan rasional (hati nurani manusia) sulit bagi manusia untuk menarik diri dari masyarakat, mesti begitu manusia juga dilarang untuk menyerahkan pertimbangan moralnya pada masyarakat. Manakala perbuatan-perbuatan yang didasarkan pada berlakunya kebiasaan terlihat tidak bermoral atau merugikan, ia tidak hanya menolak kebiasaan tersebut tetapi juga akan berusaha untuk menghimbau orang-orang lain untuk mengubah kebiasaan itu.[11] Salah satu kebiasaan yang tidak disukai oleh Confucius adalah upacara pengorbanan manusia.

  1. Kesimpulan

Dari beragam pemikiran, tindakan dan sikap Confucius terutama yang berkaitan dengan politik lebih menekankan pada bagaimana menjadi penguasa, pemerintah dan pejabat yang baik yaitu yang mengutamakan kepentingan rakyat. Bagi Confucius rakyat menjadi sangatlah penting mengingat banyak rakyat menjadi korban ambisi dan kepentingan penguasa. Ketika kecil ia hidup dengan kondisi lingkungan yang buruk, para bangsawan senang memamerkan kekayaannya dan pemerintah dipegang oleh bangsawan ini yang hanya mementingkan dirinya sendiri akhirnya rakyatlah yang hidup menderita serta menjadi pekerja paksa.

Hidup dalam kondisi inilah yang menjadikannya sebagai tokoh filsuf yang begitu berpegang teguh pada rakyat. Dengan begitu dalam setiap pemikirannya mengenai pemerintahan yang baik yaitu menjadi rumah tempat tinggal yang nyaman aman bagi segenap rakyat tanpa terkecuali. Seorang pemimpin yang baik harus bersikap selayaknya seorang pemimpin yang peduli pada rakyatnya. Sebagai seorang menteri harus beranai menolak keputusan penguasa yang berakibat buruk bagi rakyat dan Negara, tidak hanya sebagai abdi yang terus menerus mematuhi atasannya.

Taktik politik Confucius sangatlah baik dalam menyikapi rusaknya pemerintahaan ketika itu, selain dengan memberikan kritik, Confucius memperjuangkan keinginan besar ini melalui lembaga pendidikan. Lembaga pendidikannya ini terbuka untuk semua kalangan baik bangsawan maupun rakyat jelata. Murid-muridnya ini diberikan bimbingan, pengajaran, pencerahan yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip hidup Confucius, dengan begitu ia berharap para muridnya ini nantinya bisa menjadi pejabat pemerintah yang dapat merubah pemerintahan menjadi pemerintahan yang penuh kebajikan. Selain itu murid-muridnya juga dibekali bagaimana bersikap sebagai pejabat Negara yang harus berpegang teguh pada prinsip Confucius. Banyak para murid Confucius pada akhirnya tewas karena menentang kebijakan pemerintah yang buruk dan juga menjadi pemberontak pemerintah.

Pada dasarnya pemikiran politik Confucius hingga kini masih dijadikan acuan dalam pemikiran politik khususnya dalam hal untuk menjadi pemerintah yang baik tidak hanya di negerinya saja yaitu cinta tetapi telah mendunia dan juga dipelajari oleh para pemikir politik dari Barat. Dilihat dari segala prinsif-prinsifnya ini masih relevan untuk dapat diperaktekkan pada pemerintahan dimasa kini karena penuh dengan pesan moral mengenai kebajikan dan keadilan yang mengutamakan kepentingan rakyat.

Referensi

Greel, H.G. Alam Pikiran Cina: Sejak Confucius Sampai Moa Zedong, Terjemah Soejono Soemargono, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1989.

Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Zukeran,Pat. Confucius, dalam

http://www.leaderu.com/orgs/probe/docs/Confucius.html, yang diakses pada Selasa 6 Oktober 2009.

New World Encyclopedia, dalam

http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Confucius#Politics, yang diakses pada Selasa 6 Oktober 2009.

Stanford Encyclopedia of Philosophy, dalam

http://plato.stanford.edu/entries/Confucius/#ConPol, yang diakses pada Selasa 6 Oktober 2009.

http://www.Confucius.org/lunyu/indonesian/indonesian/indonesian_ndbio.htm, yang diakses pada Rabu 7 Oktober 2009.

http://www.Confucius.org/lunyu/indonesian/indonesian/indonesian_nd0203.htm, yang diakses pada Rabu 7 Oktober 2009.

http://www.Confucius.org/lunyu/indonesian/indonesian_nd0105.htm, yang diakses pada Rabu 7 Oktober 2009.

http://www.Confucius.org/lunyu/indonesian/indonesian_ndcommon.htm, yang diakses pada Rabu 7 Oktober 2009.



[1] Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000, hlm 18.

[3] ibid

[4] Greel, H.G. Alam Pikiran Cina: Sejak Confucius Sampai Moa Zedong, Terjemah Soejono Soemargono, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1989, hlm 30.

[5] Stanford Encyclopedia of Philosophy, dalam

http://plato.stanford.edu/entries/Confucius/#ConPol, yang diakses pada Selasa 6 Oktober 2009.

[9] Greel, H.G. Alam Pikiran Cina: Sejak Confucius Sampai Moa Zedong, Terjemah Soejono Soemargono, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1989, hlm 36.

[10] Ibid, hlm 43

[11] Ibid, hlm 33

1 komentar:

ISMA YUNITA, S.Pd (calon M.Pd) mengatakan...

terima kasih . tulisannya membantu saya mengerjakan makalah filsafat....