Sabtu, 09 Mei 2009

mahmoud Abbas

MAHMOUD ABBAS
TOKOH KONTROVERSIAL PALESTINA
Mahmoud Abbas adalah presiden otoritas Palestina yang dipilih dalam pemilu demokratis dari fraksi Fatah pada Januari 2005, ia dilantik pada 15 Januari 2005 untuk masa jabatan hingga 9 Januari 2009. Sebelumnya ia adalah perdana menteri otoritas Palestina pada tahun 2003 yang hanya menjabat hampir empat bulan saja. Pengalaman politiknya sangatlah panjang ia merupakan salah satu anggota pendiri dari kelompok Fatah Palestina pada tahun 1957 selain itu ia juga anggota dari organisasi pembebasan Palestina atau organize Palestinian groups (PLO) dan pada 1980 ia menjadi ketua dari Departemen Dalam Negeri dan Hubungan Internasional PLO, akhirnya setelah kematian Yasser Arafat pada tahun 2004 ia menjadi ketua dari PLO, ia juga adalah angggota Fatah Central Committee pada tahun1964-2003 dan pada Mei 1988 ia menjadi pemimpin Fatah Central Committee menggantikan Abu Jihad (lihat http://www.jewishvirtuallibrary.org)
Mahmoud Abbas dilahirkan di kota Safed pada tanggal 26 Maret 1935 dalam keluarga yang merupakan pengunsi perang dari tahun 1948 dan menetap di Syiria. Waktu cepat berlalu sampai akhirnya ia menyelesaikan studi S1 di bidang hukum di University of Damascus Mesir dan melanjutkan studi S2 di PhD, History, Oriental College of Moscow, judul dissertasinya pada tahun 1982 adalah "The Secret Connection between the Nazis and the Leaders of the Zionist Movement”. Disertasinya ini menjadi perdebatan panjang karena berisi kerjasama Yahudi dengan Nazi mengenai jumlah korban dan terdakwah kasus Holocoust, karyanya ini dikenal sebagai penolakan Holocoust.
Perannya dalam perdamaian Palestina-Israel, Mahmoud Abbas merupakan tokoh yang kontroversial karena disatu sisi ia berjuang demi Palestina merdeka dan damai, disisi lain ia begitu aktif bekerjasama dengan Israel dan Amerika dan cenderung tidak mau bekerjasama dengan fraksi lain yang merupakan bagian dari rakyat Palestina juga yakni kelompok Hamas, hal ini bagi sebagian rakyatnya merupakan bentuk penghianatan. Dalam jumpa pers bersama dengan Presiden Polandia Lech Kacyzynski di Warsaw Mahmoud Abbas berkata ."Saya tidak tahu siapa yang akan memenangkan pemilihan itu, tetapi kami akan bekerjasama dengan pemerintah baru Israel hasil dari pemilihan berdasarkan persetujuan bilateral dan resolusi internasional yang telah diadopsi untuk poin ini,".(lihat sikap hina Mahmoud Abbas siap bekerjasama dengan penjajah Israel dalam http://www.syabab.com)
Diantara peran Mahmoud Abbas dalam perdamaian Palestina adalah mengikuti sejumlah pertemuan internasional untuk perdamaian Palestina-Israel, diantaranya menjadi delegasi Palestina dalam Madrid Conference 1991, menandatangani the Oslo Interim Peace Agreement, 1995,menandatangani the Oslo Declaration of Principles, 1993 dan pada tahun 2000 Al-Aqsa Intifada. Mahmoud Abbas menjadi anggota sekaligus pemimpin dari organisasi pembebasan Palestina. Dalam perannya untuk perdamaian Palestina Abbas cenderung lunak senang akan diskusi dan negosiasi. Ia merupakan tokoh yang disukai oleh Amerika Serikat dan Israel, bahkan ketika hubungan mereka tegang dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat, Mahmoud Abbas menjadi tokoh penting bagi perundingan Palestina dengan Amerika Serikat dan Israel. Presiden baru Palestina Mahmoud Abbas didukung penuh oleh Amerika Serikat dan Israel bahkan pada tahun 2003 ketika ia menjadi perdana menteri Palestina yang merupakan usulan dari kedua Negara ini (Riza Sihbudi, 53, 2006)
Pemikiran Mahmoud Abbas untuk perdamaian Palestina adalah “tujuan politiknya adalah untuk mengakhiri pendudukan Israel terhadap Palestina sejak tahun1967, terbentuknya Negara Palestina untuk menemukan keadilan dan menyepakati solusi untuk para pengungsi. Orientasi strateginya adalah keputusan diambil dengan cara negosiasi. Apa tuntutan Kubu Israel, apa harapan Israel, adalah penghentian gencatan dan agresi masyarakat Palestina dan ini merupakan keharusan untuk menjaga stabilitas dan keamanan dan kita akan penuhi komitmen kita untuk mencapai tujuan itu. Kita mengharapkan Israel menghentikan pembangunan jalan, ekspansi dan bebaskan para pejuang Palestina. Tahap-tahap tersebut akan mendorong masyarakat palestina untuk mendukung dan mengejar kemajuan perdamaian”. (lihat http://israelipalestinian.procon.org)
Pendapatnya ini sangat bertentangan dengan pendekatan garis keras kelompok militan Palestina dan Hamas sehingga konflik terjadi diantara keduanya. Selain itu kedekatannya dengan Amerika Serikat dan Israel begitu terbuka hal ini terbukti dari sejumlah pertemuan diantaranya Pertemuan Mahmoud Abbas dengan presiden George W Bush dan Perdana menteri Israel Sharon dalam The Red Sea Summit di Aqaba Jordan pada 4 Juni 2003 yang membahas perdamaian Palestina-Israel. Dalam pertemuan tersebut Bush secara pribadi berkata kepada Mahmoud Abbas, “I have a moral and religious obligation…I feel God’s world coming to me, ‘Go get the Palestinians their state and get the Israelis their security, and get peace in the middle East’. And by God, I’m gonna do it “(The Guardian, 7 Juli 2005). Abbas juga mengadakan pertemuan dengan menteri Luar Negeri Amerika Condoleezza Rice dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert. Bagi kelompok militan Palestina mereka adalah musuh bersama karena tindakan mereka terhadap negerinya yang diduduki wilayahnya sehingga semakin sempit, ditambah serangan Israel yang tiba-tiba menyerang dengan senjata rudalnya terhadap Palestina.
Ketidakbersahabatan Mahmoud Abbas terhadap rekan sebangsa dan setanah airnya terlihat jelas dari upayanya untuk memberhentikan perdana menteri Palestina yang terpilih dengan cara demokrasi, karena ketakutannya, Hamas akan mengambil alih kekuasaannya. Dengan peristiwa itu terjadilah perang diantara kedua belah pihak dan akhirnya bagian Gaza menjadi wilayah kekuasaan Hamas. Hamas berhasil menguasai Gaza pada tahun 2007 setelah terlibat baku dengan aparat keamanan Abbas selama hampir satu minggu. Pengambilalihan itu dipicu oleh kebijakan Abbas yang secara sepihak mencopot Ismail Haniyah dari Hamas, yang ketika itu menjabat sebagai perdana menteri Palestina. Haniyah terpilih menjadi perdana menteri setelah Hamas memenangkan pemilu dan mendapat dukungan dari mayoritas rakyat Palestina. (lihat Mahmoud Abbas: Hamas tidak boleh ambil alih tepi barat dalam http://www.eramuslim.com)
Keterpihakannya terhadap barat dibanding rakyatnya sendiri terlihat nyata ketika para pengacara arab yang menginginkan para pelaku kejahatan terhadap rakyat palestina dijatuhi hukuman sebagai penjahat perang namun Abbas tidak menyetujui hal ini. Wakil Ketua Asosiasi Pengacara Arab, Abdl Adzim Al-Magribi dalam wawancaranya dengan Televisi Al-Jazeera Selasa 13 Januari mengatakan, Mahmud Abbas menolak kerja sama dengan pihaknya untuk mengajukan para pemimpin Israel ke mahkamah internasional atas kejahatan perang di Gaza. (lihat http://www.infopalestina.com/ms/). Sikap Abbas ini begitu mengherankan bagi para pengacara arab ini, sebagai seorang presiden Palestina yang banyak dari rakyatnya menjadi korban dari agresi militer Israel namun ia tidak berniat sedikitpun untuk menindak tegas para pembunuh ini.
Dilihat dari tindakan dan aksi Mahmoud Abbas selama ini sangat kontrofersional, bagi Barat sendiri dan dunia Internasional pada umunya menganggap sosok Abbas ini adalah sangat baik karena sikapnya yang kooperatif dan damai dalam menyelesaikan permasalahan yang dilaksanakan melalui perundingan dan negosiasi. Tapi bagi kelompok Hamas dan dunia Islam merasa tindakannya yang terlalu kooperatif dengan Israel dan Amerika Serikat adalah bentuk penghianatan terhadap rakyat Palestina yang terus menderita akibat agresi Israel yang telah merenggut keluarga, sahabat dan tempat tinggal mereka. Kedekatan Abbas kepada Amerika Serikat dan Israel merupakan kekuatannya sekaligus kelemahannya (Riza Sihbudi, 54, 2006). Masalah besar akan timbul jika Abbas tidak mampu menghasilkan konsensus dengan Amerika dan Israel yang lebih baik dari Arafat.
Dialog dan negosiasi terus dilakukan Abbas untuk perdamaian Palestina namun hingga kini tidak ada hasil yang memuaskan bagi rakyatnya karena sikapnya yang terlihat mengalah sehingga pihak Palestina sering kali dirugikan dalam resolusi damai tersebut. Mesti begitu perang bukanlah cara terbaik dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel namun perundingan dan negosiasi masih sangat diperlukan terutama bantuan dari dunia Islam dalam menyelesaikan masalah ini tanpa melupakan kepentingan rakyat Palestina yang mesti didahulukan dari yang lainnya karena selama ini merekalah yang menderita. Berunding dan bernegosiasilah dengan adil dan mengutamakan kepentingan rakyat palestina dari pada pihak Israel dan Barat.